Bekerja tapi Menganggur


Oleh : Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Judul di atas terdengar aneh dan kurang masuk akal. Namun dalam kenyataannya hal itu sering terjadi dan ditemukan di banyak tempat.
Contohnya, seorang staf di suatu unit kerja. Secara administrasi ia tercatat secara resmi sebagai pegawai, ia bekerja di sana. Ia pun memperoleh gaji, tunjangan dan fasilitas lainnya layaknya seorang pegawai. Tapi coba lihat, apa yang sehari-hari ia lakukan?

Setiap hari ia datang ke kantor, tanda tangan absen, lalu baca koran. Kegiatan berlanjut dengan ngobrol sana-sini dengan teman kerja, lalu beranjak ke warung. Di warung obrolannya makin seru, makin banyak topik yang dibicarakan. Menjelang siang dia menyelonong pergi dengan alasan menjemput anak sekolah. Kalau sudah begitu jangan ditanya lagi kapan dia kembali ke kantor.

Orang seperti inilah yang bisa kita sebut dengan istilah ”bekerja tapi menganggur”. Ia berstatus resmi sebagai pegawai, tapi ia tidak bekerja alias menganggur. Kenapa hal itu terjadi, kenapa ia menganggur?

Fenomenanya secara umum nyaris sama. Hal itu terjadi karena orang tersebut tidak punya kemampuan untuk bekerja. Disuruh membuat surat ia tidak bisa.

Disuruh membuat konsep, ia tak mampu. Disuruh ini-itu tak ada yang bisa diselesaikannya dengan baik. Akhirnya atasan di tempat ia bekerja bosan, ia tidak lagi memberikan tugas, karena toh akhirnya tak ada yang bisa dikerjakan si pegawai tadi. Maka, jadilah ia pekerja yang menganggur. Bekerja tapi menganggur.

Hal seperti ini banyak terjadi di mana-mana. Baik di lembaga pemerintah maupun di lembaga swasta. Banyak ditemukan orang-orang yang diangkat jadi pegawai, digaji, namun tidak berdaya guna.

Penyebabnya hampir bisa dipastikan, yaitu salah dalam melakukan seleksi penerimaan pegawai atau dipaksakan agar dia diterima di suatu unit kerja. Ia diterima karena titipan si anu, si ini, si itu, misalnya. Padahal, ia tidak memenuhi syarat dan tidak mempunyai kemampuan. Namun, terpaksa diterima. Atau, salah dalam seleksi penerimaan pegawai.

Lalu, terjadilah hal seperti di atas tadi. ”Lah dicubo manyuruah macam-macam karajo, ndak ado nyo nan bisa. Akhirnyo ndak diagiahnyo karajo lai Pak,” begitu alasan atasan yang bersangkutan menerangkan kenapa ia dibiarkan menganggur tanpa pekerjaan. ”Panek awak,” imbuhnya.

Bukan tak ada upaya agar ia bisa berubah, berbagai pembinaan telah dilakukan. Ia sudah dikirim untuk mengikuti berbagai latihan di diklat, juga sudah dikirim pelatihan dan studi banding ke provinsi lain, namun hasilnya tetap nihil.

Orang seperti ini akan menjadi beban dan menjadi sumber masalah sepanjang masa. Oleh karena itu, di lingkungan pemerintah provinsi Sumatera Barat menyediakan fasilitas pensiun muda/dini untuk mereka, karena sudah terlanjur diangkat jadi pegawai.

Untuk pegawai yang belum diangkat, Pemprov Sumbar melakukan tes CPNS secara sangat serius. Tidak ada toleransi bagi saudara, anak, kemenakan, atau titipan si ini atau si itu. Kalau memang hasil tes menyatakan tidak memenuhi syarat, maka ia tidak akan lulus. Mungkin banyak yang kecewa, namun keputusan ia harus diterapkan secara tegas.

Begitu juga bagi PNS yang akan mendapat promosi atau jabatan tertentu. Ia harus lulus seleksi fit and proper test serta ujian pemetaan potensi. Selain itu, persyaratan administrasi dan mengikuti jenjang karir sesuai aturan yang berlakujuga harus diikuti.

Untuk jabatan eselon III dan IV, banyak ditentukan oleh pejabat eselon II (kepala SKPD), karena ia yang paling tahu kondisi dan kemampuan staf di bawahnya. Jika ia memilih staf yang tidak tepat, maka ia sendiri yang akan kewalahan karena pekerjaan dan prestasi kerja satuan kerja kurang, karena staf dan pejabat di bawahnya tidak mampu bekerja sesuai dengan bidangnya.

Jadi, jika ada penerimaan pegawai atau promosi jabatan, tidak perlu kasak-kusuk. Semua dilakukan sesuai prosedur dan mekanisme jenjang karir berjalan secara alamiah dan wajar.

Bagi mereka yang diberi amanah sebagai pejabat eselon II, III atau IV juga jangan cepat puas dulu, karena ada penilaian kinerja bagi anda. Jika dalam waktu 6 bulan tidak menunjukkan prestasi kerja, jangan menyesal jika digantikan oleh yang lain.

Jika seleksi pegawai sudah dilakukan secara baik dan pejabat/pimpinan unit dan satuan kerja yang diangkat adalah orang yang tepat, Insya Allah kerja dapat dilakukan secara optimal, PNS sebagai pelayan masyarakat bisa melayani masyarakat secara maksimal. Tidak ada lagi istilah karyawan yang menganggur, tidak ada lagi pejabat yang tidak paham dengan pekerjaan yang harus dia kerjakan.

Jika hal ini bisa tercapai, pegawai bekerja secara profesional, masyarakat bekerja bersungguh-sungguh bekerja sesuai dengan profesinya masing-masing, insya Allah dalam waktu yang tidak terlalu lama, masyarakat Sumatera Barat akan menjadi masyarakat madani, adil dan bermartabat. Amin YRA. (*)

Padang Ekspres • Rabu, 04/04/2012 10:01 WIB

About beritapkssumbar

Mengabarkan Kiprah PKS
This entry was posted in Irwan Prayitno. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s